Tuesday, March 30, 2010

Sebab-sebab dan Pencegahan Kecelakaan

SEBAB SEBAB KECELAKAAN
Berdasarkan konsepsi sebab kecelakaan tersebut diatas, maka ditinjau dari sudut keselamatan kerja unsur-unsur penyebab kecelakaan kerja mencakup 5 M yaitu :
1. Manusia.
2. Manajemen ( unsur pengatur ).
3. Material ( bahan-bahan ).
4. Mesin ( peralatan ).
5. Medan ( tempat kerja / lingkungan kerja ).
Semua unsur tersebut saling berhubungan dan membentuk suatu sistem tersendiri. Ketimpangan pada salah satu atau lebih unsur tersebut akan menimbulkan kecelakaan / kerugian. Berikut contoh bentuk-bentuk ketimpangan unsur 5M tersebut.:
1. Unsur Manusia, antara lain :
» Tidak adanya unsur keharmonisan antar tenaga kerja maupun dengan pimpinan.
» Kurangya pengetahuan / keterampilan.
» ketidakmampuan fisik / mental.
» Kurangnya motivasi.
2. Unsur Manajemen, antara lain :
» Kurang pengawasan.
» Struktur organisasi yang tidak jelas dan kurang tepat.
» Kesalahan prosedur operasi.
» Kesalahan pembinaan pekerja.
3. Unsur Material, antara lain :
» Adanya bahan beracun / mudah terbakar.
» Adanya bahan yang mengandung korosif.
4. Unsur Mesin, antara lain :
» Cacat pada waktu proses pembuatan.
» Kerusakan karena pengolahan.
» Kesalahan perencanaan.
5. Unsur Medan, antara lain :
» Penerangan tidak tepat ( silau atau gelap ).
» Ventilasi buruk dan housekeeping yang jelek.
PENCEGAHAN KECELAKAAN
Berdasarkan uraian diatas, maka kecelakaan terjadi karena adanya ketimpangan dalam unsur 5M, yang dapat dikelompokan menjadi tiga kelompok yang saling terkait, yaitu :
Manusia, Perangkat keras dan Perangkat lunak. Oleh karena itu dalam melaksanakan pencegahan dan pengendalian kecelakaan adalah dengan pendekatan kepada ketiga unsur kelompok tersebut, yaitu :
1. Pendekatan terhadap kelemahan pada unsur manusia, antara lain :
a. Pemilihan / penempatan pegawai secara tepat agar diperoleh keserasian antara bakat dan kemampuan fisik pekerja dengan tugasnya.
b. Pembinaan pengetahuan dan keterampilan melalui training yang relevan dengan pekerjaannya.
c. Pembinaan motivasi agar tenaga kerja bersikap dan bertndak sesuai dengan keperluan perusahaan.
d. Pengarahan penyaluran instruksi dan informasi yang lengkap dan jelas.
e. Pengawasan dan disiplin yang wajar.
2. Pendekatan terhadap kelemahan pada perangkat keras, antara lain :
a. Perancangan, pembangunan, pengendalian, modifikasi, peralatan kilang, mesin-mesin harus memperhitungkan keselamatan kerja.
b. Pengelolaan penimbunan, pengeluaran, penyaluran, pengangkutan, penyusunan, penyimpanan dan penggunaan bahan produksi secara tepat sesuai dengan standar keselamatan kerja yang berlaku.
c. Pemeliharaan tempat kerja tetap bersih dan aman untuk pekerja.
d. Pembuangan sisa produksi dengan memperhitungkan kelestarian lingkungan.
e. Perencanaan lingkungan kerja sesuai dengan kemampuan manusia.
3. Pendekatan terhadap kelemahan pada perangkat lunak, harus melibatkan seluruh level manajemen, antara lain :
a. Penyebaran, pelaksanaan dan pengawasan dari safety policy.
b. Penentuan struktur pelimpahan wewenang dan pembagian tanggung jawab.
c. Penentuan pelaksanaan pengawasan, melaksanakan dan mengawasi sistem/prosedur kerja yang benar.
d. Pembuatan sistem pengendalian bahaya.
e. Perencanaan sistem pemeliharaan, penempatan dan pembinaan pekerja yang terpadu.
f. Penggunaan standard/code yang dapat diandalkan.
g. Pembuatan sistem pemantauan untuk mengetahui ketimpangan yang ada.

Thursday, March 25, 2010

KELELAHAN/KELETIHAN KERJA

Kelelahan adalah suatu mekanisme control psikologis yang menagtur tingkah laku bekerja, yang berawal dari pekerja fisik tau mental. Kelelahan akibat fisik dan mental dapat berupa kurang tidur, kurang bertenaga, gangguan konsentrasi, sulit mengambil keputusan, mudah marah, frustasi depresi, bingung dan meningkatnya resiko kecelakaan. Dengan demikian kelelahan akan menyebabkan penurunan kapasitas kerja dan resistensi kerja.
Grandjean (1988) juga mengklasifikasikan kelelahan ke dalam 7 bagian yaitu:
1. Kelelahan visual, kelelahan pada penglihatan
2. Kelelahan tubuh secara umum, yaitu kelelahan akibat beban fisik yang berlebihan
3. Kelelahan mental, yaitu kelelahan yang disebabkan oleh pekerjaan mental atau intelektual
4. Kelelahan syaraf, yaitu kelelahan yang disebabkan oleh tekanan berlebihan pada salah satu bagian sistem psikomotor, seperti pada pekerjaan yang membutuhkan keterampilan
5. Pekerjaan yang bersifat monoton
6. Kelelahan kronis, yaitu kelelahan akibat akumulasi efek jangka panjang
7. Kelelahan sirkadian, yaitu bagian dari ritme siang-malam, dan memulai periode tidur yang baru

faktor-faktor yang mempengaruhi kelelahan
1. Faktor internal
a. Umur tenaga kerja
b. Masa kerja
c. Status gizi
d. Olahraga
e. Kebiasaan merokok
f. Kebiasaan minum alcohol dan penyalahgunaan obat
g. Gangguan musculoskeletal

2. faktor eksternal
a. tinggi meja kerja
b. iklim kerja
c. pencahayaan tempat kerja
d. tingkat pendapatan
e. kesempatan merubah sikap/posisi bekerja
f. pemakaian sepatu
g. kondisi lantai
h. shift kerja

Masalah-Masalah pada Pekerja Shift

Bekerja selama berjam-jam dari mulai tengah malam sampai jam 5 pagi berpeluang mengganggu ritme sirkadia atau circadian rythme (siklus bangun dan tidur normal). Hal ini dapat membuat anda terjaga saat waktunya tidur keesokan harinya dan juga membuat anda tertidur di tengah pekerjaan anda selanjutnya. Sulit sekali untuk menghilangkan atau mengubah jam sirkadia internal. Tidak mengherankan bahwa 10-20% pekerja shift dilaporkan jatuh tertidur saat bekerja, biasanya saat shift paruh kedua
Kurangnya tidur membawa pengaruh buruk, kemampuan berpikir dan bergerak akan menjadi lambat, membuat lebih banyak melakukan kesalahan dan kesulitan dalam hal mengingat sesuatu. Efek negative ini memicu menurunkan produktivitas kerja dan bisa menyebabkan kecelakaan kerja.
Masalah-masalah medis pekerja shift
1. Kesulitan tidur dan bangun
• Kesulitan untuk bisa tertidur dan bangun
• Kesulitan untuk mempertahankan tidur
• Insomnia kronis
• Meningkatnya konsumsi pil tidur
• Kesulitan tetap terjaga pada saat bekerja
Suatu hasil studi menunjukkan bahwa diantara sepertiga dan dua per tiga dari pekerja shift dilaporkan jatuh tertidur setidaknya seminggu sekali pada saat bekerja.
2. Masalah gastrointestinal
Ketidaknyamanan umum pada lambung
Penyakit gastrointestinal, seperti radang lambung dan usus dua belas jari timbul lebih sering di antara pekerja shift
3. Masalah kadiovaskular

Sumber : Rafiudin,Rahmat.Insomnia & Gangguan Tidur.Jakarta : Elex Media Komputindo

Monday, March 8, 2010

ANTROPOMETRI ERGONOMIS

Antropometri merupakan bidang ilmu yang berhubungan dengan dimensi tubuh manusia. Dimensi-dimensi ini dibagi menjadi kelompok statistika dan ukuran persentil. Jika seratus orang berdiri berjajar dari yang terkecil sampai terbesar dalam suatu urutan, hal ini akan dapat diklasifikasikan dari 1 percentile sampai 100 percentile. Data dimensi manusia ini sangat berguna dalam perancangan produk dengan tujuan mencari keserasian produk dengan manusia yang memakainya. Pemakaian data-data tersebut agar dapat mengusahakan alat-alat yang akan digunakan dapat disesuaikan dengan pemakaian manusia. Bukan manusia yang harus menyesuaikan dengan alat-alat tersebut. Hal ini dibuat agar tidak terjadi kesalahan kerja atau bahaya terhadap pemakainya.
Data antropometri merupakan data ukuran dimensi tubuh manusia. Data antropometri sangat berguna alam perancangan suatu produk dengan tujuan mencari keserasian produk dengan manusia yang menggunakannya. Dengan demikian tidak hanya memberi kepuasan pada pengguna produk saja, tetapi juga pada pembuat produk.
Untuk mendisain produk secara ergonomis yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari atau mendesain produk yang ada pada lingkungan haruslah disesuaikan dengan antropometri manusia yang ada di lingkungan itu sebab bila tidak sesuai maka akan menimbulkan berbagai dampak negatip yang akan terjadi baik dalam waktu jangka pendek maupun jangka panjang
Berikut adalah penelitian yang berkaitan dengan antropometri : Dampak ketidakserasian antara meja dan kursi sekolah dengan ukuran tubuh anak sekolah merupakan salah satu kendala dalam upaya meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas. Akibat dari meja dan kursi sekolah yang tidak sesuai dengan ukuran tubuh anak sekolah antara lain dapat mengakibatkan anak cepat mengalami kelelahan, perasaan tidak nyaman, kurang konsentrasi dan mengantuk pada waktu kegiatan belajar disekolah. Berdasarkan hasil kuesioner terhadap siswa SMA Negeri 1 Gemolong bahwa 76,7% responden menyatakan posisi belajar tidak nyaman dengan meja dan kursi yang ada sekarang. Hasil Nordic Body Map menyatakan adanya keluhan pada anggota tubuh siswa diantaranya leher sakit 81,7%, bahu pegal 70,8%, punggung pegal 76,7%, pantat sakit 44,2%, tangan dan jari pegal 69,2%, lutut sakit 61,7%, kaki pegal 80,8%.
Penelitian berikut merupakan penelitian yang dilakukan untuk melihat memperbaiki ketidakergonomisan di dapur rumah tinggal. Kegiatan masak memasak dapat dikatagorikan pekerjaan setengah berat. Bekerja di dapur adalah suatu pekerjaan yang melelahkan. Sikap kerja paksa akibat menggunakan peralatan yang kurang cocok dengan persyaratan ergonomi akan mengakibatkan tubuh merasa lelah yang dapat mengganggu kesehatan.
Untuk mengatasi hal tersebut dilakukan perbaikan yaitu dengan menyesuaikan tinggi bidang kerja dengan jalan meninggikan lantai kerja sesuai ukuran antropometri pekerja. Tinggi bidang kerja adalah 10 cm di bawah tinggi siku pekerja. Perbaikan ini diharapkan dapat mengubah sikap kerja yang tidak ergonomis menjadi ergonomis.Dengan menggunakan Pre test and post test group design, penelitian ini dilaksanakan dan besarnya sampel sebanyak 21 subyek, dipilih dengan teknik random sederhana. Uji statistik yang dipakai “student t-test”. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perbaikan sikap kerja mengurangi keluhan pada sistem otot rangka sebesar 23,96 % (p < 0,05) dan menurunkan denyut nadi kerja sebesar 23,13% (p> 0,05)
Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa dengan perbaikan sikap kerja dapat menurunkan beban kerja berupa beban tambahan, berarti bahwa dengan menggunakan dapur yang ergonomi akan mendapatkan kenyamanan bagi penghuninya.

Sumber :
Priyono, Ari. Perancangan ulang meja dan kursi belajar ditinjau dari aspek ergonomi (Studi Kasus Di SMA Negeri 1 Gemolong)
Soewarno, Aik. Dapur Rumah Tinggal Yang Ergonomis Bagi Penghuninya.Bali : Universitas Udayana.
Widagdo, Suharyo, Liliana.Y.P, Ahmad Abtokhi. 2007.Pertimbangan Antropometri Pada Pendisainan. Yogyakarta: Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir